TEMPO.CO , Makassar:Jika
Anda ingin berjodoh dengan orang asal Soppeng, cukup berdiri di bawah
pohon asam tempat kelelawar bersarang. Masyarakat Soppeng percaya bahwa
seseorang dari luar kota yang kebetulan berkunjung ke tempat itu dan
terkena air kencing kelelawar, maka diyakini bahwa jodoh orang tersebut
adalah orang Soppeng.
Tapi, saat saya hendak melihat langsung
kelelawar di pusat kota Watansoppeng, ibu kota Kabupaten Soppeng,
Sulawesi Selatan, teman saya warga Soppeng, Khaerul Amri, 26 tahun,
justru menyarankan agar saya mengenakan payung. Alasannya agar tidak
terkena kotoran kelelawar. Tiba di sana, kami disambut riuh suara
kelelawar yang bergelantungan di atas pohon asam, di sekitar Masjid
Raya. Beberapa ekor tampak terbang ke sana-kemari, hinggap dari pohon
yang satu ke pohon yang lain. Pemandangan semakin indah ketika langit
berubah menjadi jingga.
Meskipun aroma di sekitar pohon asam
sangat tidak enak, kesabaran saya menahan bau sangit kelelawar
terbayarkan oleh pemandangan yang tak bisa saya temukan di tempat lain.
Terdapat
ribuan ekor kelelawar di sana. Saking banyaknya kelelawar, malah
menjadi salah satu ikon Kota Watansoppeng. Keberadaannya juga menjadi
daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang datang ke kota itu. Koloni
kelelawar tersebut akan beterbangan untuk mencari makan pada saat
matahari tenggelam dan kembali ketika fajar menjelang.
Warga
Soppeng percaya banyak mitos terhadap keberadaan mamalia terbang itu.
Selain dianggap sebagai "penjaga" Kota Watansoppeng, jika kalong-kalong
tersebut pergi dalam waktu lama, warga meyakini hal tersebut sebagai
pertanda bahaya.
Kelelawar juga dipercaya bisa menjadi obat untuk
beberapa macam penyakit. Hati kelelawar dikonsumsi oleh penderita asma
sebagai obat tradisional. Hewan nokturnal yang satu ini dalam
cerita-cerita horor Barat kerap dikaitkan dengan keberadaan drakula
pengisap darah. Namun kelelawar yang berkoloni di Kota Watansoppeng
adalah vegetarian alias pemakan buah-buahan.
Mumpung masih berada
di Watansoppeng, tak jauh dari koloni kelelawar, kita bisa menikmati
suasana kota dari ketinggian di Vila Yuliana, gedung tua bekas
peninggalan pemerintah kolonial Belanda yang saat ini difungsikan
menjadi museum.
Gedung ini dibangun C.A. Krosen pada 1905 dengan
menggunakan perpaduan arsitektur Eropa dan Bugis. Vila ini merupakan
bangunan kembar yang kembarannya berada di Belanda.
Berhadapan
dengan Vila Yuliana, ada kompleks Istana Datu Soppeng yang dibangun
sekitar 1261 pada masa pemerintahan Raja Soppeng I Latemmamala yang
bergelar Petta Bakkae.
Eksotisme Soppeng tak berhenti di sana.
Daerah ini juga memiliki beberapa tujuan wisata alam yang tak kalah
menarik. Seperti pemandian air panas Lejja, yang berada di kawasan hutan
lindung berbukit dengan panorama yang indah di Desa Bulu, Kecamatan
Marioriawa, 44 kilometer utara Kota Watansoppeng. Setiap hari, terutama
pada waktu liburan, lokasi tersebut selalu dipadati pengunjung. Air
panas yang suhunya bisa mencapai 60 derajat Celsius ini diyakini bisa
menyembuhkan berbagai jenis penyakit, dari gatal-gatal hingga rematik.
Wisata
pemandian lain adalah Ompo, yang berjarak 3 kilometer ke sebelah utara
Kota Watansoppeng, tepatnya di Kelurahan Ompo, Kecamatan Lalabata. Ompo
berasal dari kata mompo, yang artinya muncul. Menurut legenda
masyarakat sekitar, dulu ada seorang petani yang tenggelam bersama
kerbaunya di tempat itu. Setelah dicari ke mana-mana, sang petani tak
juga ditemukan. Kemudian dari tempat hilangnya tersebut muncul mata air,
yang kemudian dikenal dengan nama Ompo atau Mompo.
Berwisata
mengelilingi suatu daerah tak akan lengkap rasanya bila tak membawa
pulang oleh-oleh khas daerah tersebut. Anda bisa langsung ke toko
Walasoji yang berlokasi di Jalan Kemakmuran, Ruko Pakanrebete, Nomor 11.
Tersedia beragam suvenir di tempat ini, seperti songko Bugis, gelang,
dan kalung khas Soppeng. Selain itu, ada makanan khas, seperti tape dan
kue bolu.
Butuh waktu kurang-lebih empat jam untuk mencapai kota
ini dari Makassar. Ada dua pilihan jalan yang bisa ditempuh untuk menuju
Negeri Kalong ini. Pertama, melalui jalan poros Camba, atau bisa juga
melalui jalan poros Bulu’dua.