Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Agustus 2014

Cerita dari Ompo



Sehabis mandi di kolam renang permandian ompo, perut kami keroncongan.  Si Om memutuskan mencari warung bakso, demi memenuhi menu makanan favorit kedua kemenakan, Afee dan dan Mia.  Mobil diarahkan menuju ke waduk yang berada di belakang Ompo.


Si Om mengenang masa kecilnya di sekitar waduk ompo, sekitar 20 tahun yang lalu. Siswa SMP dan SMA yang aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler pramuka sering mengadakan kegiatan tahunan dengan kemah bersama pada 17an Agustus.

Jumat, 01 Agustus 2014

Jalan-jalan di Obyek Wisata Alam Citta, Soppeng



Dari kota soppeng menggunakan sepeda motor, Kami mencari suasana yang tenang dan enak untuk berwisata, Kami pun mencoba untuk berkunjung ke Obyek Wisata Permandian Alam Citta, Salah satu obyek wisata yang berada di wilayah administrasi Kecamatan Citta, Kabupaten Soppeng. Jarak dari jalan poros sengkang – Makassar, Lajoa sejauh 10 kilometer. 

Pemandangan alam sangat indah, karena pengunjung akan disuguhi petanian padi sepanjang perjalanan. Sayang, jalan menuju Obyek Wisata Citta masih sangat buruk, alias jelek berlobang-lobang, sehingga pengunjung kadang harus berhati-hati.

Permandian Alam Citta

Pengunjung menikmati wisata alam citta pasca lebaran

Selasa, 10 Desember 2013

Mandi Air Panas di Lejja Soppeng

SOPPENG, KOMPAS.com — Selain kaya dengan hasil kerajinan tangannya, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, juga memiliki sejumlah tempat wisata alam yang memesona, tersebar di beberapa kecamatan. Salah satu wisata alam yang paling banyak dikunjungi adalah wisata pemandian Lejja yang terletak di kawasan Desa Bulue, Kecamatan Marioriawa, sekitar 44 kilometer dari Watansoppeng.

Berada di wilayah pegunungan, suasana di pemandian Lejja Soppeng terasa lebih sejuk. Tapi, jangan membayangkan airnya sedingin es karena air di sini hangat. Bahkan, air dari bukit yang mengalir di beberapa anak sungai sebelum dialirkan ke kolam-kolam renang bisa merebus butiran telur hingga matang untuk dikonsumsi. Suhu air mencapai 60 derajat celsius, ditambah kandungan sulfur, dengan kadar belerang sesuai hasil penelitian mencapai 1,5 persen.

Kelebihan air dari perbukitan Soppeng inilah yang dipercaya berkhasiat bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit dan tulang, seperti rematik, tegang pada otot tubuh, gatal-gatal, hingga jerawat.

Pemandangan di lokasi wisata pemandian tersebut semakin sempurna dengan pemandangan mata air yang mengalir di sela-sela bukti lereng gunung yang ada di sekitarnya. "Tidak hanya anak-anak, orang dewasa hingga kaum lanjut usia pun banyak yang sengaja ke pemandian ini hanya untuk berendam karena airnya dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit, seperti rematik, gatal-gatal, hingga penyakit tulang," kata Acci, salah seorang pengunjung, kepada Kompas.com, Sabtu (21/5/2011).

Anto, karyawan swasta asal Kabupaten Sidrap, mengaku, sebulan sekali dia dan keluarganya menyempatkan waktu libur ke permandian air panas tersebut. Selain wisata keluarga, juga untuk kesehatan otot tulangnya agar tidak mudah keropos.

"Di usia yang mendekati lima puluh tahun, paling bagus berendam dengan air panas yang berasal dari alam. Saya merasakan manfaatnya karena setiap habis berendam saya merasa segar kembali," katanya.

Untuk berendam di pemandian ini memang perlu beradaptasi dulu karena kalau tidak tubuh tentu akan terkejut dengan suhu airnya yang cukup panas. Sebelum berendam, pengunjung biasanya sebatas merendam kaki saja, sebelum berendam separuh badan, sambil duduk di tembok kolam renang.

Pengelola pemandian menyediakan tiga kolam renang yang tingkat kehangatannya berbeda-beda selain kolam yang dikhususkan bagi pengunjung anak-anak.

Dari catatan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Soppeng, setiap tahun obyek wisata tersebut dikunjungi hingga 60.000 wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Dengan tarif hanya Rp 2.500 per orang, pengunjung bisa menikmati fasilitas wisata yang ada di dalamnya, di luar gedung dan vila yang juga disediakan di tempat ini.

"Kami terus berupaya melakukan pembenahan di lokasi wisata agar bisa menarik lebih banyak wisatawan selain menambah kenyamanan bagi tiap pengunjung," kata Kepala Dinas Pariwisata Soppeng Zainuddin. 

sumber : kompas

Pesona Sutra Kota Kelelawar

Siapa yang menyangka jika di kota berjulukan "Kota Kelelawar" terdapat pusat pembibitan ulat sutra terbesar di Indonesia dan sekaligus kampung tenun sutra Bugis berkualitas terbaik.

Tenun Sutra Bugis memang tidak pernah sepi peminat. "Gelar" tenun sutra terbaik juga bukan sekadar isapan jempol semata. Namun kini semakin sulit menemui pengrajin tenun sutra.

Keberadaannya semakin langka, bukan karena pasarnya yang kering, melainkan akibat pengrajinnya yang semakin langka. Malah di Soppeng, salah satu kampung tenun di Sulawesi Selatan, jumlah penenun sutra bisa dihitung jari.

Perjalanan menuju Soppeng untuk menemui para penenun "langka" bukanlah perjalanan yang mudah. Dibutuhkan waktu lebih dari lima jam melalui jalur berkelak-kelok yang memacu adrenalin.

Dari Bulu-bulu menuju Soppeng, harus melalui beberapa kota, yakni Makasar-Maros-Pangkep, setelah itu memasuki daerah Tanete menuju Kabupaten Barru. Berjalan sekitar 80 km dari Barru, barulah kita akan menemukan kota kelelawar, Soppeng.

Julukan Kota Kelelawar bagi Soppeng dikarenakan di kota kecil ini banyak dihuni kelelawar yang bergelayutan di dahan-dahan pohon asam.

Sebuah pemandangan luar biasa, ribuan kelelawar berada ditengah kota merupakan sambutan pertama jika kita datang mengunjungi Soppeng. Binatang yang juga kerap disebut kalong ini merupakan spesies yang dilindungi di Soppeng.

Selain Kota Kelelawar, Soppeng juga dikenal sebagai pusat pembibitan ulat sutra terbesar di Indonesia. Ulat sutra Sulawesi ini berbeda jenis dengan yang bisa ditemui di Pulau Jawa.

Perum Perhutani PSA Soppeng yang membawahi pusat pembibitan tersebut mengembangbiakkan ulat sutra yang berasal dari persilangan ulat sutra China dan ulat sutra Jepang. Ada juga ulat sutra asal Jawa Tengah berjenis Candiroto.

Kokon ulat sutra Sulawesi hasil persilangan berbentuk oval dengan panjang sekitar 600-1200 mm. Kokon China berbentuk bulat dengan bercirikan seratnya pendek namun tahan dari penyakit. Sementara Kokon ulat Jepang berbentuk panjang dan memiliki serat panjang namun tidak tahan akan penyakit.

Dengan adanya persilangan, menghasilkan kokon oval dengan benang sutra yang jauh lebih bagus dari yang belum disilangkan.

"Dari hasil persilangan itu bisa didapatkan benang sutra yang lebih halus," terang Manager Perhutani PSA Soppeng Kamaruddin, yang menambahkan PSA Soppeng bertugas mengembangbiakan telur ulat sutra yang kemudian dijual kepada petani.

"Setiap satu boks telur berisi 25 ribu butir telur dengan harga jual Rp80ribu. Namun, tahun 2011 ini petani mendapatkan subsidi dari pemerintah, sehingga telur dapat diambil secara gratis," terang Kamaruddin.

Adapun satu boks telur bila sudah menjadi kokon rata-rata bisa menghasilkan lima kilogram benang sutra. Untuk pemintalan satu kilogram benang membutuhkan 7-8 kg kokon dan dikerjakan dalam satu hari.

Data yang dikeluarkan PSA Soppeng hingga Agustus 2011, mereka telah mendistribusikan 1.588 boks telur ulat sutra ke petani.

Tapi angka ini turun dari tahun lalu," kata Kamaruddin, yang menyebutkan di periode sebelumnya mereka mendistribusikan 3.226 boks telur. "Karena kemarau datang lebih awal," lanjutnya.

Kamaruddin menerangkan, ulat sutra lebih menyukai musim dingin daripada musim panas. "Bila kemarau, ulat banyak yang tidak jadi," tegasnya.

Namun permasalahan cuaca hanyalah faktor minor dari permasalahan penyusutan petani sutra di Sulawesi Selatan. Faktor lain yang menjadi pemicu adalah banyaknya petani yang beralih pada komoditi lain yang lebih menjanjikan, seperti jagung dan padi. "Akibatnya, permintaan telur ulat sutra menurun," tutur Kamaruddin. [bersambung/mor]

Sumber : inilah.com

Eksotisme Koloni Kalong di Soppeng

TEMPO.CO , Makassar:Jika Anda ingin berjodoh dengan orang asal Soppeng, cukup berdiri di bawah pohon asam tempat kelelawar bersarang. Masyarakat Soppeng percaya bahwa seseorang dari luar kota yang kebetulan berkunjung ke tempat itu dan terkena air kencing kelelawar, maka diyakini bahwa jodoh orang tersebut adalah orang Soppeng.

Tapi, saat saya hendak melihat langsung kelelawar di pusat kota Watansoppeng, ibu kota Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, teman saya warga Soppeng, Khaerul Amri, 26 tahun, justru menyarankan agar saya mengenakan payung. Alasannya agar tidak terkena kotoran kelelawar. Tiba di sana, kami disambut riuh suara kelelawar yang bergelantungan di atas pohon asam, di sekitar Masjid Raya. Beberapa ekor tampak terbang ke sana-kemari, hinggap dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Pemandangan semakin indah ketika langit berubah menjadi jingga.

Meskipun aroma di sekitar pohon asam sangat tidak enak, kesabaran saya menahan bau sangit kelelawar terbayarkan oleh pemandangan yang tak bisa saya temukan di tempat lain.

Terdapat ribuan ekor kelelawar di sana. Saking banyaknya kelelawar, malah menjadi salah satu ikon Kota Watansoppeng. Keberadaannya juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang datang ke kota itu. Koloni kelelawar tersebut akan beterbangan untuk mencari makan pada saat matahari tenggelam dan kembali ketika fajar menjelang.

Warga Soppeng percaya banyak mitos terhadap keberadaan mamalia terbang itu. Selain dianggap sebagai "penjaga" Kota Watansoppeng, jika kalong-kalong tersebut pergi dalam waktu lama, warga meyakini hal tersebut sebagai pertanda bahaya.

Kelelawar juga dipercaya bisa menjadi obat untuk beberapa macam penyakit. Hati kelelawar dikonsumsi oleh penderita asma sebagai obat tradisional. Hewan nokturnal yang satu ini dalam cerita-cerita horor Barat kerap dikaitkan dengan keberadaan drakula pengisap darah. Namun kelelawar yang berkoloni di Kota Watansoppeng adalah vegetarian alias pemakan buah-buahan.

Mumpung masih berada di Watansoppeng, tak jauh dari koloni kelelawar, kita bisa menikmati suasana kota dari ketinggian di Vila Yuliana, gedung tua bekas peninggalan pemerintah kolonial Belanda yang saat ini difungsikan menjadi museum.

Gedung ini dibangun C.A. Krosen pada 1905 dengan menggunakan perpaduan arsitektur Eropa dan Bugis. Vila ini merupakan bangunan kembar yang kembarannya berada di Belanda.

Berhadapan dengan Vila Yuliana, ada kompleks Istana Datu Soppeng yang dibangun sekitar 1261 pada masa pemerintahan Raja Soppeng I Latemmamala yang bergelar Petta Bakkae.

Eksotisme Soppeng tak berhenti di sana. Daerah ini juga memiliki beberapa tujuan wisata alam yang tak kalah menarik. Seperti pemandian air panas Lejja, yang berada di kawasan hutan lindung berbukit dengan panorama yang indah di Desa Bulu, Kecamatan Marioriawa, 44 kilometer utara Kota Watansoppeng. Setiap hari, terutama pada waktu liburan, lokasi tersebut selalu dipadati pengunjung. Air panas yang suhunya bisa mencapai 60 derajat Celsius ini diyakini bisa menyembuhkan berbagai jenis penyakit, dari gatal-gatal hingga rematik.

Wisata pemandian lain adalah Ompo, yang berjarak 3 kilometer ke sebelah utara Kota Watansoppeng, tepatnya di Kelurahan Ompo, Kecamatan Lalabata. Ompo berasal dari kata mompo, yang artinya muncul. Menurut legenda masyarakat sekitar, dulu ada seorang petani yang tenggelam bersama kerbaunya di tempat itu. Setelah dicari ke mana-mana, sang petani tak juga ditemukan. Kemudian dari tempat hilangnya tersebut muncul mata air, yang kemudian dikenal dengan nama Ompo atau Mompo.

Berwisata mengelilingi suatu daerah tak akan lengkap rasanya bila tak membawa pulang oleh-oleh khas daerah tersebut. Anda bisa langsung ke toko Walasoji yang berlokasi di Jalan Kemakmuran, Ruko Pakanrebete, Nomor 11. Tersedia beragam suvenir di tempat ini, seperti songko Bugis, gelang, dan kalung khas Soppeng. Selain itu, ada makanan khas, seperti tape dan kue bolu.

Butuh waktu kurang-lebih empat jam untuk mencapai kota ini dari Makassar. Ada dua pilihan jalan yang bisa ditempuh untuk menuju Negeri Kalong ini. Pertama, melalui jalan poros Camba, atau bisa juga melalui jalan poros Bulu’dua. 

Sumber : tempo