Spanduk
calon bupati soppeng mulai bertebaran pada saat idul fitri kemarin, diantaranya
H. Aris Muhammadia, Mantan Anggota DPRD Kota Makassar, dan lalu
terpilih menjadi Wakil Bupati Soppeng, yang juga Ketua Partai Demokrat Soppeng
sekarang. Andi Zulkarnaen Soetomo, Anak
bupati Soppeng yang akan melanjutkan dinasti orang tuanya. Andi Kaswadi Razak, Ketua DPRD Soppeng, Juga Ketua
Golkar Soppeng dan sudah dua kali gagal menjadi Bupati. Ir Lutfhi Halide, Kepala
Dinas Pertanian Sulawesi Selatan, yang juga besan Syahrul Yasin Limpo. dan, Djusman AR, Aktivis Anti Korupsi mencoba publikasikan diri di media
tribun. Kelima inilah yang memunculkan diri tapi tidak menutup kemungkinan
calon lain bermunculan tanpa terduga kedepan.
Elit
politik Sulawesi Selatan pun tak luput berkomentar terkait pemilihan bupati di Soppeng,
demi untuk mengulangi pertarungan pemilihan gubernur. Ilham Sirajuddin, Mantan
Ketua Demokrat Sul-Sel sudah menyatakan untuk mencalonkan Orang dari Partai Demokrat
menjadi Calon Bupati di Soppeng. Namun, akan berkoalisi dengan partai lain
untuk mendapatkan kursi tersebut.
Syahrul
Yasin Limpo sebagai Ketua Golkar tentunya tidak akan ketinggalan, Kemungkinan
calon golkar akan memilih antara besannya, Lutfhi Halide dan Ketua Partai Golkar Soppeng, H. Andi Kaswadi Razak. Namun, Jika belajar pengalaman politik
SYL pada masa lalu tidak luput dari politik keluarga dan kemungkinan besar akan
memaksakan besannya untuk mengendarai Partai Golkar.
Begitupun
Gerindra tidak akan ketinggalan kereta, Latinro La Tunrung, isunya akan
mengusung Istrinya untuk menjadi Bupati Soppeng berpasangan dengan Andi
Zulkarnaen. Kebetulan istri lattinro la tunrung adalah putri asli soppeng.
Untuk
jalur independen akan dikendarai oleh Djusman Ar karena tidak memiliki kekuatan
dari partai politik. Konon kabarnya jika A. Kaswadi Razak tidak mendapatkan
restu dari SYL, maka akan menggunakan kendaraan independen.
Namun,
jika kita berkaca pada pemilihan presiden yang barusan berlangsung. Golkar dan
Gerindra sebagai peraih kursi terbanyak di DPRD Soppeng bisa dibilang keok
abiss. Jokowi-JK mendapatkan suara 80% di Soppeng. Artinya kendaraan politik
partai PDIP yang diketuai Zainal Basri Palaguna yang juga orang soppeng dan
Partai Nasional Demokrat (NASDEM) yang dipelopori A. Akbar Singke menjadi momok
baru kedepan.
Selain
itu, Pertimbangan siaran tv pada saat ini sangat gencar memberitakan kebobrokan
ical dalam memimpin golkar, konflik tiada hentinya sampai ical turun dari tahta
kepemimpinannya. Pemberitaan itu akan
mengedukasi kaum kelas tengah untuk anti golkar di tanah bugis khususnya di
Soppeng.
Begitupun
pemberitaan prabowo yang selalu mencari-cari kesalahan KPU dan Jokowi, Malah
menjadi bahan tertawaan publik di media sosial, dan bisa jadi juga demikian
pada warga soppeng. Situasi ini akan memperburuk citra prabowo dan partainya
kedepan.
Dalam
situasi yang tidak menentu dalam perpolitikan nasional akan menciptakan
blunder-blunder dan mengubah pandangan warga soppeng terhadap pilihan
politiknya kedepan. Dan akan mengubah peta politik yang selama ini mengandalkan
gerindra dan golkar sebagai pemenang dalam pemilihan bupati. Kuda hitam pun
sangat berpeluang untuk menyalip partai pemenang pileg di soppeng.
Namun,
Siapapun yang maju dalam pemilihan bupati kedepan, kami “orang biasa” hanya
bisa berharap bahwa momentum politik jangan dijadikan ajang pembodohan dengan
janji palsu dan money politik yang massif.
Marilah
belajar dari strategi politik Jokowi – JK yang menciptakan politik santun dan
bermartabat, mulai dari pengumpulan dana-dana publik untuk digunakan dalam
kampanye, bukan dana dari para cukong yang mengeruk APBN ketika terpilih.
Kedua,
Relawan bermunculan hingga ribuan jumlahnya bukan karena duit, melainkan
inisiatif orang per orang untuk bergerak. Semua itu bisa terjadi karena faktor figure
Jokowi yang dianggap sangat dekat rakyat terutama “orang biasa” yang biasa
diistilahkan dengan blusukan.
Ketiga,
Visi misi yang merakyat bukan visi misi mengawang-ngawang dari ahli belakang
meja, tapi visi misi yang berasal dari keluhan “orang biasa” seperti kami. Terakhir,
selamat bertarung buat semua calon bupati, semoga tidak lagi menciptakan
konflik horizontal seperti yang terjadi pada pilkada yang lalu.
Salam
kemenangan dari kami kaum GOLPUT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar